Di tengah pesatnya arus modernisasi, tradisi lokal sering kali menjadi pengingat akan akar budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi unik yang masih lestari di Desa Pasaranom, adalah tradisi "ngayu." Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap adat istiadat Jawa yang kaya akan makna filosofis dan nilai-nilai kebersamaan.
Makna Ngayu dalam Adat Jawa
Menurut Teguh Santoso, sesepuh sekaligus Kepala Dusun Gading Klenton, ngayu merupakan kegiatan adat yang dilakukan oleh keluarga yang akan melaksanakan pernikahan pertama dalam keluarga. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh keluarga yang memiliki hajat menikahkan anak untuk pertama kalinya. Ngayu menjadi penanda awal rangkaian persiapan menuju pernikahan, yang dilakukan tepat 36 hari sebelum hari pernikahan atau selapanan menurut perhitungan kalender Jawa.
Prosesi dan Filosofi Ngayu
Tradisi ngayu melibatkan berbagai kegiatan yang sarat makna. Salah satu kegiatan utamanya adalah membuat pagar bambu di sekitar rumah keluarga yang punya hajat. Pagar ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda rumah tempat hajatan, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai perlindungan dan kesiapan keluarga dalam menyambut acara besar.
Selain itu, keluarga bersama saudara dan masyarakat sekitar bergotong-royong memotong kayu. Kayu yang dipotong harus berjumlah tujuh pokok dan berasal dari tujuh jenis pohon. Angka tujuh dalam tradisi Jawa melambangkan kesempurnaan dan keberkahan, sementara kerja sama dalam kegiatan ini mencerminkan semangat gotong-royong yang menjadi inti dari kehidupan masyarakat Jawa.
Setelah pagar dan kayu disiapkan, keluarga menyelenggarakan acara selamatan yang disebut "tenger." Selamatan ini bertujuan untuk memohon restu dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh rangkaian acara pernikahan dapat berjalan lancar tanpa halangan. Doa yang dipanjatkan juga mencerminkan harapan akan keberkahan bagi mempelai dan keluarga besar.
Pelestarian Tradisi di Era Modern
Meskipun tantangan modernisasi tidak dapat dihindari, tradisi ngayu tetap dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat Desa Pasaranom. Teguh Santoso menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam setiap prosesi agar nilai-nilai adat ini terus diwariskan. Dengan menjaga tradisi seperti ngayu, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga memperkuat identitas kolektif yang menjadi ciri khas mereka.
Tradisi ngayu di Desa Pasaranom adalah salah satu contoh bagaimana adat istiadat mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Kearifan lokal ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan kesederhanaan yang terkandung dalam kehidupan masyarakat Jawa.
warga
10 Desember 2024 21:39:05
kerenn... Pasaranom sudah punya website Desa .. semoga semakin maju...